KONTAK KAMI | Butuh bantuan? Klik disini!
  • Yahoo!
  • Hotline - 0817.042.9050(XL) - 0813.2660.8813(Simpati)
  • SMS - 0817.042.9050 - 0813.2660.8813
  • BBM - 79F588ED
  • Whatsapp - 0817 042 9050
  • pupuk.nasa@yahoo.com
Beranda » Teknis Budidaya » Teknis Budidaya Cabai Organik

Teknis Budidaya Cabai Organik

Teknis Budidaya Cabai Organik dengan Teknologi NASA atau Natural Nusantara ini bertujuan untuk meningkatkan hasil dan kualitas dari cabai tersebut. Teknis budidaya ini menggunakan produk... Selengkapnya

Teknis Budidaya Cabai Organik

Teknis Budidaya Cabai Organik dengan Teknologi NASA atau Natural Nusantara ini bertujuan untuk meningkatkan hasil dan kualitas dari cabai tersebut. Teknis budidaya ini menggunakan produk... Selengkapnya

Kode : -
Stok :
Dilihat : 757 kali
Review : Belum ada review
INFO HARGA
Silahkan menghubungi kontak kami untuk mendapatkan informasi harga produk ini.

Bagikan informasi tentang Teknis Budidaya Cabai Organik kepada teman atau kerabat Anda.

Tentang Teknis Budidaya Cabai Organik

Ditambahkan pada: 19 November 2013 / Kategori: ,

Teknis Budidaya Cabai Organik

Teknis Budidaya Cabai Organik dengan Teknologi NASA atau Natural Nusantara ini bertujuan untuk meningkatkan hasil dan kualitas dari cabai tersebut.

Teknis budidaya ini menggunakan produk organik dari PT. Natural Nusantara ( NASA ) dan berupaya menolong penyelesaian permasalahan tersebut, supaya bisa terjadi peningkatan produksi cabai dengan berpedoman pada kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ), sehingga para petani bisa berkompetisi di era globalisasi atau pasar bebas nanti.

Adapun teknis budidaya cabe dengan teknologi Nasa adalah sebaga berikut:

A. PENDAHULUAN
Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.
PT. Natural Nusantara (NASA) berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (K-3), sehingga petani dapat berkompetisi di era pasar bebas.

B. FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan

  1. Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2.
  2. Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu).
  3. Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2.
  4. Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm.
  5. Siramkan SUPERNASA (1 bt) / POC NASA(1-2 bt).
  6. Supernasa : 1 botol dilarutkan dalam 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk. Atau 1 gembor (+ 10 liter) diberi 1 sendok makan peres SUPERNASA dan siramkan ke bedengan + 5-10 m.
  7. POC NASA : 1 gembor (+ 10 liter) diberi 2-4 tutup POC NASA dan siramkan ke bedengan sepanjang + 5 – 10 meter.
  8. Campurkan GLIO 100 – 200 gr ( 1 – 2 bungkus ) dengan 50 – 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu dan sebarkan ke bedengan.
  9. Bedengan ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1 – 2 minggu ).

2. Benih

  1. Kebutuhan per 1000 m2 1 – 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30.
  2. Biji direndam dengan POC NASA dosis 0,5 – 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.

C. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
1. Persiapan Persemaian

  1. Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
  2. Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.

2. Penyemaian

  1. Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring.
  2. Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS.
  3. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban.

3. Pengamatan Hama dan Penyakit
Penyakit

1. Rebah semai (dumping off)

Gejala: tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp.

Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi siram Natural GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.

2. Embun bulu,

Gejala: ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.

3. Kelompok Virus,

Gejala: pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu.

Cara mengatasi: bibit terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.

b. H a m a

1. Kutu Daun Persik (Aphid sp.)

Perhatikan permukaan daun bagian bawah atau lipatan pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.

2. Hama Thrip parvispinus.

Gejala: serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA untuk mengurangi penyebaran.

3. Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus).

Gejala : serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip

D. FASE TANAM
1. Pemilihan Bibit

  • Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus.
  • Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 – 30 hari).

2. Cara Tanam

  • Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.
  • Plastik polibag dilepas.
  • Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki.

3. Pengamatan Hama dan Penyakit

  • Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat yang ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dengan PESTONA atau VIREXI.
  • Ulat Grayak ( Spodoptera litura dan S. exigua ), Ciri ulat yang baru menetas / masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut/badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian. Semprot dengan VITURA, VIREXI atau PESTONA.
  • Bekicot/siput. Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) dan buang ke luar areal.
  • Kutu – kutuan ( Aphis, Thrips, Tungau ), lihat fase persemaian.
  • Penyakit Layu, disebabkan beberapa jamur antara lain Fusarium, Phytium dan Rhizoctonia. Gejala serangan tanaman layu secara tiba-tiba, mengering dan gugur daun. Tanaman layu dimusnahkan dan untuk mengurangi penyebaran, sebarkan GLIO.
  • Penyakit Bercak Daun, Cercospora capsici. Jamur ini menyerang pada musim hujan diawali pada daun tua bagian bawah. Gejala serangan berupa bercak dalam berbagai ukuran dengan bagian tengah berwarna abu-abu atau putih, kadang bagian tengah ini sobek atau berlubang. Daun menguning sebelum waktunya dan gugur, tinggal buah dan ranting saja. Akibatnya buah menjadi rusak karena terbakar sinar matahari. Pengamatan pada daun tua.
  • Lalat Buah (Dacus dorsalis), Gejala serangan buah yang telah berisi belatung akan menjadi keropos karena isinya dimakan, buah sering gugur muda atau berubah bentuknya. Lubang buah memungkinkan bakteri pembusuk mudah masuk sehingga buah busuk basah. Sebagai vektor Antraknose. Pengamatan ditujukan pada buah cabai busuk, kumpulkan dan musnahkan. Lalat buah dipantau dengan perangkap berbahan aktif Metil Eugenol 40 buah / ha.
  • Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides), gejala serangan mula-mula bercak atau totol-totol pada buah yang membusuk melebar dan berkembang menjadi warna orange, abu-abu atau hitam. Bagian tengah bercak terlihat garis-garis melingkar penuh titik spora berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan seluruh bagian buah mengering. Pengamatan dilakukan pada buah merah dan hijau tua. Buah terserang dikumpulkan dan dimusnahkan pada waktu panen dipisahkan. Serangan berat sebari dengan GLIO di bawah tanaman.

E. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)

  • Penyiraman dapat dilakukan dengan pengocoran tiap tanaman atau penggenangan (dilep) jika dirasa kering.
  • Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran merupakan perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl : NASA = (250 : 250 : 250) gr dalam 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 – 4 minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dengan perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl : NASA = (500 : 250 : 250) gr dalam 50 liter air, dengan dosis 500 cc/lubang.
  • Kebutuhan total pupuk makro 1000 m2 :

 

Jenis Pupuk
1 – 4 minggu (kg)
5 – 12 minggu
(kg)
Urea
7
56
SP-36
7
28
KCl
7
28

Catatan :

  1. Umur 1 – 4 mg 4 kali aplikasi (± 7 tong/ aplikasi).
  2. Umur 5-12 mg 8 kali aplikasi (± 14 tong/aplikasi).
  • Penyemprotan POC NASA ke tanaman dengan dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 dan 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.
  • Perempelan, sisakan 2-3 cabang utama / produksi mulai umur 15 – 30 hr.
  • Pengamatan Hama dan Penyakit

F. FASE PANEN DAN PASCA PANEN
1. Pemanenan

  • Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
  • Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya
  • Setelah pemetikan ke-3 disemprot dengan POC NASA + Hormonik dan dipupuk dengan perbandingan seperti diatas, dosis 500 cc/ph

2. Cara panen :

  • Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
  • Pemanenan yang baik pagi hari setelah embun kering
  • Penyortiran dilakukan sejak di lahan
  • Simpan ditempat yang teduh

 

 

 

C. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)
1. Persiapan Persemaian

  • Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
  • Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.

2. Penyemaian

  • Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring.
  • Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS.
  • Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban.

3. Pengamatan Hama dan Penyakit
a. Penyakit

  • Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.
  • Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.
  • Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.

b. H a m a

  • Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah atau lipatan pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.
  • Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA untuk mengurangi penyebaran.
  • Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip

Belum ada review untuk Teknis Budidaya Cabai Organik

Silahkan tulis review Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

12345

Produk Terkait Teknis Budidaya Cabai Organik

Teknis Budiaya Jagung dengan produk Nasa dibawah ini merupakan panduan dasar untuk cara budiaya jagung....

*harga hubungi cs

Teknis Budidaya Jagung
Teknis Budidaya Jagung dengan Teknologi NASA
*harga hubungi cs

I. Pendahuluan. Ikan bandeng merupakan adalah satu jenis ikan penghasil protein hewani yang tinggi. Usaha...

*harga hubungi cs

teknis budidaya Bandeng
Teknis Budidaya Bandeng
*harga hubungi cs

Teknis budidaya Nilam dibawah ini menggunakan produk organik produksi PT. Natural Nusantara. Tulisan ini hanyalah...

*harga hubungi cs

Teknis Budidaya Nilam
Teknis Budidaya Nilam
*harga hubungi cs

Panduan Teknis Budidaya Kelapa Sawit dengan Teknologi PIKAT NASA. I. PENDAHULUAN Peluang agrobisnis kelapa sawit...

*harga hubungi cs

Cara menanam kelapa sawit yang benar
Teknis Budidaya Kelapa Sawit Organik
*harga hubungi cs

Mungkin Anda tertarik dengan produk terbaru kami.

Popular!

Perekat Perata Pembasah Aero 810 merupakan perekat-perata-pembasah terutama bagi pestisida (fungisida-insektisida-herbisida) juga untuk pupuk cair...

*harga hubungi cs

AERO-810-Perekat-Perata-Pembasah-Pestisida-organik-NASA
Perekat Perata Pembasah Aero 810
*harga hubungi cs
Ready Stock / AERO
Popular!

Agensia hayati CORRIN adalah Pestisida Biologi atau Agens Hayati dari PT Natural...

*harga hubungi cs

Agensia Hayati Corrin
Agensia Hayati Corynebacterium CORRIN
*harga hubungi cs
Ready Stock / CORIN
Popular!

Perangkap Lalat Buah Natural Metilat berfungsi efektif sebagai perangkap lalat buah. Metilat Plus adalah salah satu...

*harga hubungi cs

MetilatPlus Perangkap Khusus Lalat Buah
Perangkap Lalat Buah Natural Metilat
*harga hubungi cs
Ready Stock / MTLP
Popular!

Agensia Hayati Natural BVR adalah produk pengendali hama & penyakit tanaman ...

*harga hubungi cs

Agensia Hayati Beauveria Bassiana Untuk Hama wereng
Agensia Hayati Beauveria Bassiana Natural BVR
*harga hubungi cs
Ready Stock / BVR
Temukan Kami
Kontak